I’tikaf Ramadhan

itikaf2

Beberapa hari lagi kita akan memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, ibadah yang sangat dipelihara sekaligus dianjurkan oleh Rasulullah Saw adalah i’tikaf. 

I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sekaligus untuk meraih malam Lailatul Qadar. I’tikaf adalah mengurung diri dan mengikatnya untuk berbuat taat dan selalu mengingat Allah. Ia memutuskan hubungan dengan segala kesibukan-kesibukannya. Ia mengurung hatinya dan jasmaninya untuk Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak ada terbetik dalam hatinya sesuatu keinginan pun selain Allah dan yang mendatangkan ridho-Nya.

Pengertian Itikaf

Secara bahasa i’tikaf berasal dari kata, ‘akafa–ya’kufu–‘ukûfan, kemudian disebut dengan i’tikaf, i’takafa–ya’takifu– i’tikâfan, yang berarti menetapi sesuatu dan menahan diri padanya, baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan. Sehingga i’tikaf dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu’takif dan ‘akif. Sedangkan arti i’tikaf menurut istilah syara’ ialah, “Seseorang tinggal/menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan sifat/ciri tertentu.”

Dan disyari’atkannya i’tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah Ta’ala dan kumpulnya hati kepada Allah, berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk, hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. Hingga jadilah mengingat-Nya, kecintaan dan penghadapan kepada-Nya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya, sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya, dan jadilah keinginan semuanya kepadanya dan semua betikan-betikan hati dengan mengingat-Nya, bertafakur dalam mendapatkan keridhoan dan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Sehingga bermesraan ketika berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur manakala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya, dan (manakala) tidak ada lagi yang dapat membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya, maka inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu.”

Perintah Itikaf di Al-Qur’an dan Hadist

Quran Surat Al-Baqarah: 187

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka itu sedang kalian beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah: 187).

Hadist:

  • Dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw. I’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari)
  • Dari Aisyah bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw melakukan I’tikaf sesudah tanggal dua puluh Ramadhan hingga beliau meninggal dunia.” (HR Bukhari dan Muslim).
  • Dari Ubay bin Ka’ab dan Aisyah: “Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hinggal Allah menjemputnya (wafat).” (HR. Bukhari Muslim).

 

Hukum I’tikaf

Disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya sepanjang tahun. Telah shahih bahwa Nabi Saw beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir bulan Syawwal. Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Saw:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada zaman jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beri’tikaf pada malam hari di Masjidil Haram.” Beliau menjawab: “Tunaikanlah nadzarmu.” Maka Umar ra pun beri’tikaf pada malam harinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan beradasarkan hadits Abu Hurairah ra (bahwasanya) Rasulullah Saw sering beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang dimana beliau diwafatkan padanya, beliau (pun) beri’tikaf selama dua puluh hari.

Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Saw seringkali beritikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau.

Syarat dan Rukun I’tikaf

Untuk sahnya i’tikaf ada beberapa syarat:

  • Beragama Islam
  • Sudah baligh
  • Dilakukan di mesjid
  • Suci dari junub, haid atau nifas

Rukun I’tikaf:

  • Niat
  • Berdiam diri dalam mesjid

Jangka Waktu Minimal I’tikaf

Pendapat jumhur (mayoritas) ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalah lahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad. Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.” 

Alasan jumhur ulama: 

  • I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Berdiam di sini bisa jadi dalam waktu lama maupun singkat. Dalam syari’at tidak ada ketetapan khusus yang membatasi waktu minimal I’tikaf. Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama. Karena tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang membatasi waktu minimalnya dengan bilangan tertentu atau menetapkannya dengan waktu tertentu.
  • Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, إني لأمكث في المسجد الساعة ، وما أمكث إلا لأعتكف “Aku pernah berdiam di masjid beberapa saat. Aku tidaklah berdiam selain berniat beri’tikaf.” Demikian menjadi dalil Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 5: 179. Al Hafizh Ibnu Hajr juga menyebutkannya dalam Fathul Bari lantas beliau mendiamkannya. 
  • Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu Hazm berkata, “Allah Ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf (dalam ayat ini). Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.” Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”

Bolehkah I’tikaf Malam Hari Saja, Dan Siang Kerja?

Jawabannya, boleh. Karena syarat i’tikaf hanya berdiam walau sekejap, terserah di malam atau di siang hari. Misalnya sehabis shalat tarawih, seseorang berniat diam di masjid dengan niatan i’tikaf dan kembali pulang ke rumah ketika waktu makan sahur, maka itu dibolehkan.

 

Mesjid Untuk I’tikaf 

Dalam sebuah hadits shahih, disyari’atkan beri’tikaf hanya pada tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid an-Nabawi, dan Masjid al-Aqsha). Rasul bersabda: “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid (saja).”

Tetapi, beri’tikaf pada selain ketiga masjid adalah boleh berdasarkan makna umum firman Allah: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid.” (Qs. al-Baqarah [2]: 187). Ayat tersebut berlaku untuk segenap kaum muslimin. Jika kita katakan bahwa yang dimaksud masjid dalam ayat di atas hanya ketiga masjid, tentu banyak kaum muslimin yang tidak terpanggil, sebab mayoritas kaum muslimin berada di luar Mekkah, Madinah dan Al-Quds (Palestina).

Syaikh Nashiruddin al-Albâni berkata dalam kitabnya Qiyam ar-Ramadhan, “Adapun bagi mereka yang berpendapat disyari’atkannya i’tikaf itu di setiap masjid jami’, merekapun harus berusaha menghidupkan kembali sunnah Nabi yang sudah lama ditinggalkan ini.”

Dengan demikian, i’tikaf boleh pada masjid-masjid yang ada. Jika hadits mengatakan bahwa tidak ada i’tikaf kecuali dalam tiga masjid, maka maksudnya adalah tidak ada i’tikaf yang lebih sempurna dan lebih utama kecuali tiga masjid tersebut. Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan bukan sekedar i’tikaf, nilai sholatnya punya kelebihan tersendiri. 

Follow Facebook Kami:

Komentari Artikel Ini:

Terpopuler :

Terbaru :